Sejarah Singkat Para Warok Ponorogo

Pada abad ke XIV Ponorogo masih dikenal dengan nama Wengker, yaitu suatu wilayah yang berada dalam kekuasaan kerajaan Majapahit yang tatkala itu dipimpin oleh Paduka Raja Brawijaya V yang cukup disegani baik oleh rakyatnya maupun kerajaan lain. Sementara wengker waktu itu dipimpin oleh seorang demang yang cukup terkenal karena sakti mandraguna dan sering mengkritisi terhadap kebijakan kerajaan Majapahit yang bernama Ki Ageng Ketut Suryongalam atau lebih dikenal dengan Ki Ageng Kutu karena tinggal di wilayah Kutu dan saat ini berada di wilayah kecamatan Jetis Ponorogo.

Ki Ageng Kutu terkenal memiliki ilmu kesaktian yang cukup tinggi yang disegani oleh murid-murid serta masyarakat disekitarnya sehingga dikenal seorang tokoh yang sakti mandraguna. Wengker yang berada di wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit memiliki kewajiban juga harus asok upeti atau bayar pajak ke Majapahit, namun Ki Ageng Kutu selaku penguasa Wengker waktu itu menolak membayar upeti dan menolak menghadap raja ketika di panggil untuk diklarifikasi. Sikap tersebut berlangsung selama beberapa tahun dan akhirnya membuat Sang Maharaja Majapahit murka dengan mengirimkan utusan untuk mengklarifikasi atas sikap keras Ki Demang Kutu tersebut dan sebagai bukti keseriusan atas kemarahan Sang Maharaja maka diberangkatkanlah rombongan yang langsung dipimpin oleh sang putra raja yaitu Raden Lembu Kanigoro.

Rombongan yang ditugaskan untuk berangkat ke Wengker segera disiapkan semaksimal mungkin karena yang dihadapi adalah seorang demang yang terkenal cukup sakti mandraguna dan memiliki cukup banyak murid yang juga sakti-sakti. Setelah disiapkan pasukan yang cukup mumpuni maka berangkatlah rombongan yang langsung dipimpin oleh Raden Lembu Kanigoro, namun dalam perjalanannya ternyata rombongan tersebut tidak langsung menuju Wengker akan tetapi berkunjung terlebih dahulu kepada kakaknya yang kebetulan menjadi pemimpin kerajaan Demak atau Sultan Demak yaitu Raden Fatah. Sesampainya di Kasultanan Demak, kemudian Lembu Kanigoro menyampaikan maksud dan tujuan berkunjung ke Demak yaitu diutus mengklarifikasi dan kalau tetap membangkang untuk menaklukkan Wengker yang dipimpin oleh Ki Demang Kutu.

Baca Juga :  Sejarah Ponorogo

Mengetahui bahwa  yang akan dihadapi adalah Ki Ageng Kutu yang dikenal sakti mandraguna dan memiliki murid-murid yang juga memiliki ilmu kesaktian maka Lembu Kanigoro beserta pasukannya harus menambah ilmu taktik peperangan agar bisa menaklukkan Tokoh Wengker tersebut apabila harus terjadi perang. Selain belajar ilmu taktik perang, Raden Lembu Kanigoro ternyata juga tertarik belajar tentang agama Islam. Dengan kecerdasan cukup tinggi yang dimiliki Raden Lembu Kanigoro maka ilmu taktik peperangan dan ilmu agama Islam pun cepat dikuasai dan akhirnya Lembu Kanigoro memeluk agama Islam yang baru dipelajarinya, setelah memeluk agama Islam maka Lembu Kanigoro berganti nama menjadi Raden Bethoro Katong atau dikenal juga dengan Raden Katong.

Setelah dirasa cukup dalam menimba ilmu taktik peperangan dan agama Islam maka berangkatlah rombongan tersebut menuju Wengker. Perjalanan tersebut juga disertai seorang abdi yang juga memiliki ilmu kesaktian yang cukup tinggi yaitu Selo Aji. Setelah sampai di wilayah Wengker rombongan dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menggali informasi agar bisa menaklukkan Ki Demang Kutu dan ditemukanlah seorang tokoh muslim yang juga menjadi musuh dari Ki Ageng Kutu yaitu Ki Ageng Mirah. Bersama Ki Ageng Mirah maka disusunlah rencana menemui Ki Ageng Kutu secara baik-baik namun ketika Raden Katong menemui dengan cara ini ternyata Ki Ageng Kutu menolak keras dan bahkan menantang perang tanding dan setelah adu kesaktian maka Raden Katong mengalami kekalahan karena memang Ki Ageng Kutu memang dikenal dan terbukti sakti mandraguna.

Karena kalah sakti dengan Ki Ageng Kutu maka rencana berikutnya untuk mengalahkan kesaktian tersebut adalah dengan menikahi putri Ki Demang Kutu yang bernama Niken Sulastri. Hal ini dilakukan karena untuk menundukkan kesaktian Ki Ageng Kutu harus bisa mengambil pusaka yang dimiliki yaitu Pusaka Kyai Puspitorawe. Setelah pusaka bisa diambil dengan memanfaatkan putrinya maka terjadilah perang tanding lagi dan Ki Demang Kutu bisa ditaklukkan dan meninggal dunia. Dengan kekalahan Ki Demang Kutu tersebut maka murid-murid dari Ki Demang Kutu yang juga sakti karena rajin melakukan tapa brata oleh Raden Katong dijadikan manggala kerajaan serta tempat-tempat perguruannya tetap dilestarikan sebagai tempat untuk menggembleng para pemuda agar menjadi satria-satria yang sakti mandraguna untuk diangkat menjadi manggala atau prajurit pertahanan daerah yang baru saja ditaklukkan yang kini dikenal dengan Ponorogo. Raden Bathoro Katong menjadi pemimpin atau Bupati untuk yang pertama kalinya. Nah… para manggala sakti yang rajin bertapa brata inilah yang pada akhirnya dikenal dengan WAROK.

Baca Juga :  True Love Story Dewi Sekar Taji and Panji Asmoro Bangun in Babad Ki Godeg, Chapter I

Persyaratan untuk menjadi warok selain harus memiliki ilmu sakti mandraguna juga harus memiliki sifat-sifat, antara lain ;

1. Sifat patriotik dalam membela daerahnya
2. Berbudi luhur
3. Berwatak jujur
4. Bertanggung jawab
5. Rela berkorban untuk kepentingan daerahnya
6. Pekerja keras tanpa pamrih
7. Serta harus bersikap adil dan tegas

Sifat-sifat sebagaimana diatas merupakan ciri khas warga Ponorogo yang sampai saat ini masih mendarah daging dan menjadi watak serta karakter yang sangat dibanggakan oleh hampir seluruh warga Ponorogo. Selain sifat tersebut warok dari legenda yang terus berkembang dimasyarakat Ponorogo umumnya memiliki fisik yang berpenampilan sangar dengan jenggot dan kumis brewok, pakaian serba hitam, baju potong gulon atau tanpa kerah, celana panjang hitam lebar yang disertai dengan kolor putih besar dan menggunakan kain bebet sebagai udeng atau tutup kepala dengan mendolan. Ciri khas dari para kesatria manggala tersebut hingga kini masih tetap menjadi idola dari warga Ponorogo. Sehingga ciri fisik para warok tersebut selain tetap menjadi idola, juga tetap dilestarikan sebagai ciri khas asli daerah dan kini dikenal dengan Warokan atau meniru gaya para warok.

Penampilan fisik para warokan tersebut kini sangat mudah dikenali karena dengan cukup melihat pentas seni reyog yang tapil atau pentas di manapun di seluruh penjuru dunia, ciri tersebut akan selalu ditampilkan sebagai salah satu ciri khas seni reog Ponorogo.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.